Indonesia Sehat

Grab this Headline Animator

Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan

07 Maret 2010

Biang Keringat

Miliaria atau biang keringat, atau sering juga disebut keringat buntet pasti sering kita jumpai. Ya tentu saja, Indonesia yang punya suhu rata-rata di atas 30 derajat selsius, pasti sering menyebabkan kulit kita berkeringat. Ini merupakan refleks tubuh otomatis terhadap suhu udara. Apabila pori-pori kelenjar keringat di tubuh tersumbat, seringkali karena bakteri yang ada di kulit, maka akan muncul suatu peradangan akibat tersumbatnya keringat. Hal ini ditandai dengan kulit yang memerah, dan gatal. Bahkan tidak jarang, menimbulkan infeksi sekunder akibat digaruk-garuk dan kebersihan yang kurang.

Semua orang bisa terkena biang keringat ini. Tapi bayi dan anak-anak tampaknya lebih sering terkena. Hal ini mungkin karena proses berkeringat pada bayi belum begitu sempurna, dan anak-anak tentunya lebih aktif bermain. Kondisi ini juga, bila tidak dicegah, akan timbul berulang-ulang.

Nah, dengan memahami sedikit mengenai biang keringat ini, lalu bagaimana mengatasinya??
1. Jaga kenyamanan udara disekitar kita. Terutama di sekitar bayi dan anak-anak.
2. Jagalah kebersihan kulit.
3. Bila memang mudah berkeringat, maka gunakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. Bila baju sudah sangat basah, maka ganti dan usap tempat yang berkeringat. Keringkan lalu ganti baju dengan yang kering.
4. Berikan bedak, terutama yang mendinginkan. Hati-hati jangan berikan bedak saat berkeringat, karena akan semakin menyumbat pengeluaran keringat.
5. Lotion dan baby oil, boleh diberikan. Namun sekali lagi, berikan secara rasional. Jangan dioles terus-menerus, karena bisa berpotensi menyumbat pori-pori juga.

Salam...:D

16 Maret 2009

Ingin Punya Anak Laki-Laki atau Perempuan??

Bagi para pasangan suami istri yang baru menikah, dan/atau yang merencanakan memiliki anak, kadangkala timbul keinginan untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan. "Saya inginnya anak pertama laki-laki dok, bagaimana ya??", itu mungkin sebuah contoh bagaimana masalah gender masih dominan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masalah ini juga ditanyakan oleh salah satu kawan saya (cepetan merit lo... hahahaha...^^), semoga tulisan ini dapat membantu.

Sesungguhnya penentuan jenis kelamin anak paling tepat hanya dapat dilakukan menggunakan IVF (In Vitro Fertilization) alias bayi tabung. Dengan metode itu, dapat dilakukan washing sperm (sperma di cuci) sehingga dapat dipisahkan mana sperma X dan mana sperma Y, yang pada akhirnya bisa menentukan jenis kelamin si anak.

Jenis kelamin ditentukan oleh kromosom seks, yakni XX atau XY. Bila ovum yang mengandung X bertemu dengan sperma X, maka tentunya keturunan yang dihasilkan adalah XX alias perempuan. Begitu pula dengan XY yang berarti berjenis kelamin laki-laki. Nah dari penejelasan di atas, maka ada dua tipe sel sperma. Yakni sel sperma X dan sperma Y. Kedua sel ini memiliki perbedaan, dimana sel sperma X bergerak lebih lambat, namun lebih tahan akan suasana asam, serta memiliki ketahanan hidup lebih besar daripada si sperma Y. Jadi ini bisa menjadi faktor penentu juga dalam jenis kelamin anak.

Dari sisi ibu, kondisi vagina normal adalah sangat asam, yakni memiliki tingkat keasaman (pH) 3,8 sampai 4,5. Namun, jangan ada juga perempuan tertentu yang secara genetis memiliki tingkat keasaman sedikit lebih basa. Untuk mengetahui tingkat keasaman vagina, banyak sekali alat2 penentu keasaman yang dijual di apotik, anda bisa mengetahuinya sendiri. Nah, karena memang sangat asam, maka sperma X jelas memiliki keuntungan lebih, dan pada akhirnya hal ini menjadi salah satu alasan kenapa di dunia lebih banyak perempuan daripada laki-laki....

Dari pembahasan di atas, mari kita sedikit berandai-andai.... Ovum dikeluarkan sekitar hari ke 14 siklus menstruasi (alias kurang lebih dua minggu sebelum menstruasi berikutnya). Nah, jadi jika anda ingin memiliki anak perempuan, maka ingat bahwa sperma X merupakan sperma yang tahan lama dan tahan asam. Sehingga anda dapat berhubungan sehari atau dua hari dari perkiraan tanggal keluarnya ovum. Harapannya, para sperma X dapat menunggu ovum satu hari, sedang para sperma Y sudah mati karena memang tidak bertahan lama.

Sebaliknya, sperma Y merupakan sperma yang berjalan cepat (ngebut...), maka bila anda ingin memiliki anak laki-laki, cobalah berhubungan pas pada saat perkiraan keluarnya ovum (ovulasi). Ditambah anda dapat mencoba mengurangi keasaman vagina... Caranya dengan melakukan foreplay, sehingga terjadi lubrikasi pada vagina yang harapannya akan mengurangi keasaman, sehingga memberi peluang pada sperma Y (tentunya, semakin banyak lubrikasi, harapannya semakin basa kondisi vagina).

Di luar itu, ada beberapa artikel tulisan yang menyarankan penggunaan bahan kimiawi dan makanan. Saya jelas tidak menganjurkan penggunaan bahan kimiawi untuk mempengaruhi pH vagina, karena penggunaan tersebut jelas dapat menyebabkan penyakit. Untuk masalah makanan, disebutkan makanan alkalis (basa) seperti asparagus, almond, kembang kol, brokoli, pepaya, kentang, apel, pisang, melon, dsb, bisa mengkoreksi keasaman. Sedangkan makanan asam seperti ayam, bebek, telur, jagung, ikan, sapi dsb, akan meningkatkan keasaman. Akan tetapi, anda jelas tidak akan dapat mengubah tingkat keasaman tubuh (lihat artikel saya sebelumnya), sehingga saya pun meragukan kemampuan makanan-makanan ini.

Akhir kata, ini semua hanya usaha untuk meningkatkan probabilitas (alias kemungkinan ^^). Pada akhirnya Yang Diatas juga lah yang menentukan. Seperti slogan KB, dua anak cukup, perempuan dan laki-laki sama saja. Jadi anak perempuan atau laki-laki, sayangilah mereka, karena mereka semua titipan TUHAN ^^

Gambar diambil dari: http://www.lambda.org/Gensymb-M_F.gif

01 Maret 2009

Idiopathic Trombocytopenia Purpura - ITP

Trombosit, alias sel beku darah, saya kira bukan lagi istilah asing bagi anda semua para pembaca yang budiman (*budiman?? kayak apa aja hehehehe....). Trombosit memiliki fungsi penting dalam mencegah dan menghentikan perdarahan. Sel yang sangat kecil ini bisa anda anggap sebagai sumbat kecil (mikro) yang bertugas setiap kebocoran yang terjadi di pembuluh darah. Jumlah normal trombosit dalam tubuh adalah 150.000-400.000/mm-kubik. Dan bila jumlahnya di bawah itu, disebut sebagai trombositopenia.

ITP alias Idiopathic Trombocytopenia Purpura atau bahasa Indonesianya Purpura Trombositopenia Idiopatik merupakan suatu keadaan trombositopenia (kurangnya jumlah trombosit) yang bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan menyebabkan timbulnya manifestasi perdarahan (purpura). Seiring dengan kemajuan perkembangan, ITP ditengarai disebabkan oleh adanya antibodi anti-trombosit. Jadi antibodi ini merusak trombosit, sehingga terjadi pengrusakan trombosit dan menyebabkan jumlahnya menurun.

ITP merupakan penyebab trombositopenia pada anak yang paling sering, selain Leukemia. Disebutkan kejadiannya sekitar 5 dari 100.000 anak-anak. Kondisi ITP biasanya hanya diderita secara akut, artinya bahwa kondisi ITP akan terjadi paling lama 6 bulan, dan bila melebihi jangka waktu itu, disebut sebagai ITP kronik. Sebagian besar kasus ITP (75%) adalah kasus akut, dan akan sembuh sendiri (untungnya :D).

Gambaran klinis yang biasanya ditemui berupa adanya tanda perdarahan yang tiba-tiba muncul pada anak yang sehat. Misalnya, bintik-bintik perdarahan (seperti digigit nyamuk), lebam kebiruan, mimisan, sampai yang paling berat adalah perdarahan di otak. Untungnya, manifestasi perdarahan yang berat, seperti mimisan, dan perdarahan otak, jarang sekali ditemui.

Pada pemeriksaan darah, hanya ditemui trombositopenia, yang jumlahnya bisa mencapai 20.000/mm-kubik dan bahkan bisa lebih rendah. Namun jumlah ini biasanya hanya bertahan 1-2 minggu dan berangsur-angsur naik, seiring hilangnya antibodi anti-trombosit tersebut. Kenaikan jumlah trombosit, tentunya, diiringi dengan hilangnya tanda-tanda perdarahan, dan dalam waktu maks 6 bulan, ITP akut akan sembuh sempurna.

ITP kronik, per definisi adalah ITP yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Untungnya, sebagian besar kondisi ini juga bersifat jinak (jumlah trombosit makin lama meningkat) dan sembuh sempurna, meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama.

Memang terdapat beberapa pengobatan untuk kasus ITP. Meski demikian, sebagian besar kasus tidak membutuhkan adanya pengobatan (karena bisa sembuh sempurna). Konsultasikan dengan dokter anda, apabila anda menemui gejala-gejala perdarahan pada anak anda. Ingat, perdarahan dapat terjadi karena berbagai sebab, tidak semata-mata hanya karena trombositopenia. Salam Sehat... ^^

Gambar diambil dari http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/images/itp_photo.jpg

19 Januari 2009

Kejang Demam

Kejang Demam, atau dalam bahasa awam sering disebut sebagai step, merupakan suatu bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (alias demam) dan merupakan suatu proses ekstrakranium (alias tanpa adanya kelainan di otak). Secara sederhana, sesuai dengan namanya, kejang demam artinya kejang saat demam. Biasanya pada kondisi demam yang sangat tinggi (per rektal 38oC atau lebih), maka anak-anak akan mudah mengalami kejang.

Kenapa anak-anak? Ya, secara statistik anak-anak usia 6 bulan sampai 5 tahun, merupakan usia yang paling rentan terkena kejang demam. Sedangkan di luar usia tersebut, kemungkinan-kemungkinan lain lebih sering terjadi, misalnya infeksi otak dll.

Dalam medis, terdapat dua tipe kejang demam. Kejang demam sederhana, memiliki ciri-ciri kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), biasanya seluruh tubuh dan berhenti sendiri, serta tidak berulang dalam waktu 24 jam. Di luar poin-poin tersebut, kejang akan dimasukkan ke dalam kategori kejang demam kompleks.

Beberapa tips bagi orang tua di rumah:
1. Hindari kondisi demam yang terlalu tinggi, berikan obat penurun panas, dan selalu siapkan termometer pribadi di rumah. Sehingga anda dapat segera membawa anak anda bila panas tidak turun atau terlalu tinggi.
2. Bila terjadi kejang, jangan panik dan tetaplah tenang.
3. Kendorkan pakaian anak, miringkan kepala agar bila anak muntah atau mengeluarkan lendir, dapat segera di seka dan dikeluarkan (mencegah aspirasi).
4. Siapkan atau berikan diazepam rektal, untuk dosis mudahnya, 5 mg pada anak berat badan <10>=10 kg.
5. Segera bawa ke rumah sakit, apalagi bila kejang tidak berhenti setelah pemberian diazepam rektal.

Pada musim hujan sekarang ini, anak-anak mudah terkena penyakit dan mengakibatkan demam. Tetap waspada akan kejadian kejang demam. Meski memang belum ada laporan kematian akibat kejang demam, namun kejang yang lama dan tidak berhenti dapat menimbulkan kelainan otak. Semoga bermanfaat..

(Gambar diambil dari http://health.indiamart.com/kidshealth/illness/fever.html)
page counter
Free Web Counter



Powered by  MyPagerank.Net
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia Blog Flux Directory Yuk.Ngeblog.web.id blogarama - the blog directory Health Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Blog Search Engine Add to Technorati Favorites